Juarai Australia Terbuka Osaka Jadi Orang Asia Pertama Sebagai Petenis Nomor Satu Dunia

Beritakompas.com – Petenis Jepang Naomi Osaka sukses meraih gelar Grand keduanya setelah sukses mengalahkan petenis Ceko, Petra Kvitova, pada final Australia Terbuka di Melbourne Park, Sabtu (26/1/2019).

Denagn kemenanhgannya tersebut Naomi Osaka sekaligus berhasil merebut posisi sebagai petenis nomor satu dunia mulai 28 Januari 2019.

Suksesnya ini diraih  empat bulan setelah mendapatkan gelar grand slam pertama pada AS Terbuka 2018. Diwarnai penampilan naik-turun yang membuatnya emosi pada set kedua, Osaka mengalahkan Kvitova (28),  7-6 (7-2), 5-7, 6-4.

Petenis terakhir dengan prestasi serupa adalah Jennifer Capriati (AS). Setelah merebut grand slam pertama di Australia Terbuka 2001, Capriati kembali menang di Perancis Terbuka 2001. Setelah itu, 20 petenis ”menghilang” setelah untuk pertama kalinya menjadi juara grand slam.

Di antara para petenis itu adalah Li Na, yang kalah pada babak kedua Wimbledon 2011 setelah menjuarai Perancis Terbuka. Li Na, yang sebelum Osaka tercatat sebagai petenis Asia dengan peringkat tertinggi, yakni nomor dua dunia pada 17 Februari 2014,  kemarin mendapat kehormatan menyerahkan trofi Daphne Akhurst Memorial sebagai juara tunggal putri Australia terbuka kepada Osaka.

Kvitova juga mengalami hal serupa. Dia tersingkir pada babak pertama AS Terbuka 2011 setelah menjadi juara Wimbledon. Angelique Kerber juga tersingkir pada babak pertama Perancis Terbuka 2016 setelah menjuarai Australia Terbuka.

Tak hanya menyamai rekor Capriati, Osaka juga akan menjadi petenis Asia pertama yang menempati peringkat teratas dunia. Pada bulan yang sama setahun lalu, Osaka berada pada posisi ke-72 dunia.

Dia akan menggeser posisi Simona Halep dari puncak peringkat WTA. Osaka juga menjadi petenis putri Asia pertama yang melampaui prestasi Li Na yang pernah menempati peringkat kedua WTA. Di bagian putra, petenis Jepang Kei Nishikori menempati posisi keempat ATP pada 2015.

Melalui akun twitter-nya, Nishikori memuji Osaka dengan sederetan emoji berupa gambar bendera Jepang, piala, dan kepalan tangan. Ucapan selamat pun bermunculan melalui media sosial dari petenis dan mantan petenis.

Namun, rangkaian prestasi itu tak membuat petenis kelahiran Osaka, 16 Oktober 1997 itu berekspresi berlebihan. Sesaat setelah mendapat poin terakhir, ketika bola pukulan backhand Kvitova jatuh di luar lapangan, Osaka hanya tersenyum, lalu berjongkok dan menundukkan kepala. Setelah bersalaman dengan Kvitova, Osaka tersenyum pada timnya di tribune, menyiratkan dirinya tak percaya dengan kemenangan tersebut.

Karakternya yang lugu juga terlihat ketika memberi sambutan usai mendapat trofi dari Li Na. ”Maaf, saya sebenarnya sudah berusaha mengingat harus berterima kasih kepada siapa saja, tetapi saya lupa. Saya tidak begitu suka berbicara di depan umum,” katanya, diiringi tawa penonton di stadion.

Gelar juara Australia Terbuka merupakan cerminan kerja keras Osaka saat masa libur kompetisi, Desember. ”Saya juga berusaha sebaik mungkin pada setiap pertandingan. Ini adalah hasil dari rangkaian kerja keras saya,” katanya.

Semasa libur kompetisi, Osaka yang tinggal di Floria, AS, mempersiapkan diri untuk musim 2019 bersama pelatihnya Sascha Bajin, mantan rekan latih tanding Serena Williams. Bajin juga  pernah bekerja sama dengan Sloane Stephens, Wozniacki, dan Victoria Azarenka. Program latihan fisik dibuat oleh Abdul Sillah yang pernah berada dalam tim pelatih Serena selama lebih dari satu dekade dan melatih Stephens saat menjuarai AS Terbuka 2017.

Dalam wawancara yang disiarkan langsung melalui akun Twitter Australia Terbuka, Osaka mengatakan, Bajin telah membuatnya belajar menjadi dewasa. Itu adalah faktor yang dinilai menjadi kunci keberhasilan menjuarai dua grand slam.

Staf WTA yang mengikuti perjalanan Osaka sejak berusia 16 tahun, Courtney Nguyen, menilai, ada faktor yang membuat Osaka sukses dalam usia muda. “Dia pemalu, kepribadiannya tidak begitu terbuka. Karena inilah, dia bermain tenis bukan untuk menjadi terkenal dan demi uang. Tujuan utamanya bermain tenis adalah membuat orang tuanya bangga. Tanpa adanya gangguan dari luar, Osaka bisa fokus pada dirinya sendiri,” kaa Nguyen dalam laman resmi WTA.

Kemenangan Osaka diwarnai momen naik-turun terutama pada set kedua. Dia sebenarnya berpeluang memenangi final dalam dua set ketika mendapat tiga kesempatan match point pada skor 5-4 (0-40). Namun, peluang yang didapat saat Kvitova melancarkan servis ini terbuang, tiga diantaranya karena kesalahan dari Osaka.

Puncak emosi Osaka terjadi terjadi pada gim ke-12 saat dia mendapat giliran servis. Karena melakukan kesalahan demi kesalahan, dia marah dan menangis. Osaka pun kehilangan set tersebut.

Jeda di antara set kedua dan ketiga digunakan Osaka untuk minta izin ke toilet dan menenangkan diri. “Saya mengingatkan diri bahwa saya tak jadi menang pada set kedua ketika Kvitova servis. Itu seharusnya tidak membuat saya marah,” katanya.

Melalui tatapan mata yang tajam, serta kepalan tangan setiap kali akan memulai perburuan poin, Osaka memperlihatkan semangatnya telah kembali. Osaka pun kembali bermain “ganas” dari baseline.

Be the first to comment

Komentar Anda