Sandiaga Uno Bantah Tudingan Sering Asal Bicara Tanpa Data

Beritakompas.com – Calon wakil Presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno membantah tudingan bahwa dirinya sering asal bicara tanpa data dimana menurut pengakuannya ia adalah tipikal orang yang gila data sehingga tidak mungkin dirinya asal bicara tapa data.

Saat dijumpai awak media di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan pada Selasa (23/10) Sandi menyebut bahwa ia adalah orang yang tergila-gila akan data dimana ia memiliki tim untuk menganalisa data tersebut.

I’m crazy about data. I’m really really really crazy,” kata Sandi.
“Saya ini punya Big Data Analityc Team yang kerjanya menganalisa data, enggak mungkin dong saya bicara tanpa data,” lanjutnya.

Sandi kemudian menyebut berbagai bukti yang menunjukan kalau dia tak pernah mengungkapkan sesuatu tanpa berdasarkan pada data. Misalnya kata Sandi, saat dia membangun suatu bisnis tentu akan dimukai dengan pemetaan yang asalnya dari analisis data.

Bahkan, aku dia, saat masih menjabat sebagai Wagub DKI dirinya selalu mengambil kebijakan dengan mengacu pada Jakarta Smart City yang memang bertugas mengeluarkan berbagai data.

“Saya bangun bisnis semua pakai data, saya bangun usaha konsultasi UMKM sukses itu berdasarkan data. Di DKI kemaren Jakarta Smart City jadi referensi untuk segala kebijakan yang kami ambil karena kita semua berdasar data,” kata dia.

Sandi pun berkukuh bahwa saat ini kondisi ekonomi sulit. Itu terbukti dalam lapangan kerja dan inflasi akibat pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS.

“Dan memang (lapangan) pekerjaan susah, itu terbukti data BI indeks ketersediaan lapangan kerja untuk S1 ke bawah masuk ke level pesimis. Harga-harga naik betul itu diperlihatkan dolar naik ya harga-harga juga pasti naik,” katanya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding, melontarkan tudingan bahwa Sandiaga Uno sering asal bicara tanpa data akurat dan hobi menggeneralisasi masalah.

“Pak Sandi sudah berapa kali berikan statement tanpa data; soal tempe setipis ATM, harga nasi ayam di Jakarta lebih mahal dari Singapura, lapangan kerja dibilang susah, kan tidak juga, masyarakat krisis, krisis apanya? Tidak ada tuh,” kata Karding.

Be the first to comment

Komentar Anda