Kapal Riset BPPT Baruna Jaya I Bawa Alat Pengolah Air Minum ke Palu dan Donggala

Beritakompas.com – Badan Penelitian dan Pengkajian Tekhnologi (BPPT) telah memberangkatkan kapal riset mereka pada Rabu (3/10/2018) lalu, dimana kapal riset Baruna Jaya I tersebut berangkat untuk misi bantuan dan penelitian pasca terjadinya gempa dan Tsunami di Palu dan Donggala.

Kapal riset tersebut berangkat dengan membawa berbagai macam bahan kebutuhan pokok dimana salah satu yang dibawa adalah alat pengolah air siap minum yang disebut Arsinum. Air itu ditujukan agar para korban gempa dapat mengkonsumsi air minum.

Menurut Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) BPPT Hammam Rizadisebutkan bahwa selain membawa kapal ini membawa kebutuhan pokok kapal tersebut juga akan melakukan riset batimetri di daerah sekitar teluk Palu.

“Kami punya kapal untuk bakti teknologi dan bakti sosial. Kami juga ingin survei kelautan untuk pemetaan morfologi laut palu. Akibat gempa pasti struktur dasar laut itu berubah,” tutur Hammam di kantor BPPT, Jakarta Pusat, Kamis (4/10)

Untuk urusan riset batimetri, kapal yang beroperasi sejak 1989 ini dilengkapi perangkatmultibeam echosounder yang bisa menentukan profil permukaan dasar laut dan kedalaman air dengan cakupan area yang luas. Alat itu bisa menjangkau kedalaman laut hingga 11 ribu meter.

Selain itu kapal ini juga membawa Remote Operated Vehicle (ROV). ROV adalah kendaraan bawah laut yang dikendalikan dari jarak jauh untuk menampilkan gambar video langsung dari dasar laut.

Dengan alat ini, peneliti bisa melihat langsung gambar layout dasar laut.

“Di sisi lain kapal ini ada multibeam dan ROV. ROV dulu sama saat kami cari Sinar Bangun di Toba. Sekarang kami bawa dalam rangka menggambarkan morfologi dasar laut. Membandingkan kondisi sesudah dan setelah gempa,” tutur Hammam.

Hammam mengatakan dengan adanya pembaruan pemetaan dasar laut, diharapkan mitigasi bencana. Diharapkan hasil survei batimetri ini dapat menjadi pedoman dan sebagai kajian antisipasi bencana.

“Dengan adanya survei ini mitigasi dan kesiapsiagaan Donggala dan lain lain bisa dibangun. Itu kapal yang mitigasi bencana potensi tsunami bisa gunakan untuk pelajari geodinamik suatu daerah. Selama ini gempa di laut jadi penting tapi kita tidak ada data mendalam untuk pemetaan laut,” tutur Hammam.

Hammam mengatakan alat pengolah air siap minum yang disebut dengan Arsinum juga dikerahkan untuk mengolah air agar siap dikonsumsi korban bencana. Alat ini mampu menghasilkan bisa menghasilkan 65 ribu liter air siap konsumsi saat gempa Lombok.

Untuk operasional Arsinum sendiri menggunakan tenaga surya, sehingga tidak bergantung ada tidaknya sumber listrik di wilayah bencana. Arsinum sendiri bisa secara mobile dikerahkan ke pelosok-pelosok daerah bencana karena dipasang di mobil berkabin ganda.

“Terbukti selama pengoperasian alat tersebut sejak 9 September 2018 telah menghasilkan sekira 65 ribu liter air siap minum, yang aman dikonsumsi oleh korban gempa. BPPT pun telah membawa teknologi Arsinum ini ke wilayah bencana Palu dan Donggala,” katanya.

Hammam mengatakan kapal ini juga membawa berbagai macam bantuan untuk korban bencana mulai dari makanan, toilet darurat, tenda, hingga genset yang bisa menopang kehidupan para korban bencana.

“Untuk bakti sosial, kapal kami bawa kebutuhan darurat sekitar 250 ton. Ada 45 institusi maupun lembaga dalam hal ini. Selain bawa bantuan, kami bawa ROV, toilet darurat, ada air penjernih, genset, lamput, solar cell, tenda, dan selimut,”tutur Hammam.

Be the first to comment

Komentar Anda