Pasien Wanita RS Canberra Korban Pelecehan Seksual Sesama Pasien Dapat Ganti Rugi Rp 2,7 Miliar

Seorang wanita  yang merupakan pasien di Rumah sakit Canberra, Australia mendapatkan ganti rugi sebesar Rp 2,7 miliar setelah menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan sesama pasien di rumah sakit tersebut.

Pemberian ganti rugi kepada wanita tersebut diberikan oleh pemerintah negara bagian Australia Capital Territory (ACT) setelah wanita tersebut mengajukan gugatan.

Insiden yang dialami oleh wanita tersebut berawal saat dirinya mendatangi unit gawat darurat RS Canberra karena keracunan salmonella pada Desember 2013.

Dimana saat itu seorang pasien pria yang berada di ranjang di sebelah perempuan ini adalah seorang pemabuk, pria tersebut berulang kali memaki staf rumah sakit dan orang-orang lain di ruangan UGD.

Dalam persidangan hakim Michael Elkaim menyebutkan bahwa perilaku pria mabuk tersebut sudah menunjukkan bahaya yang sudah diperkirakan akan terjadi.

Namun wanita tersebut tetap dibiarkan berbaring di sebelah laki-laki tersebut tanpa pengawasan. Perempuan itu kemudian tertidur setelah mendapatkan obat pengurang rasa sakit.

Perempuan tersebut kemudian terbangun dan melihat pria tersebut berada di atasnya dan mulai melakukan perbuatan tidak senonoh. Pelakunya kemudian mengaku bersalah atas tindakan penganiayaan seksual yang dilakukannya di rumah sakit itu.

Setelah mengalami insiden tersebut korban mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD), yang mempengaruhi pekerjaannya dan membuat dia harus menjalani terapi kejiwaan.

Menurut hakim Elkaim seharusanya pasien pria tersebut mesti dipisahkan atau paling tidak mendapat pengawasan ketat karena perilakunya merupakan pertanda jelas bahwa dirinya berbahaya bagi pasien lain.

“Pelaku tidak seharusnya berada di bangsal tersebut, dan tidak seharusnya tanpa pengawasan, sehingga bisa bisa bebas melecehkan pasien lain.” kata hakim dalam keputusannya.

Dia menggambarkan keputusan yang dilakukan staf rumah sakit merupakan bukti nyata tindakan penelantaran.

“Dalam pandangan saya, kewajiban dari pihak rumah sakit terhadap penggugat adalah memastikan dia berada di lingkungan yang aman, bebas dari bahaya yang sudah bisa diperkirakan.”

Akhirnya pengadilan memutuskan bahwa wanita yang menjadi korban pelecehan tersebut berhak mendapatkan ganti rugi sebesar 267.000 dolar Australia atau sekitar Rp 2,7 miliar dan memerintahkan negara bagian ACT membayar biaya persidangan.

Be the first to comment

Komentar Anda