MUI Minta Umat Beragama Jaga Harmoni Terkait Video Biksu Dilarang Ibadah

Sebuah video seorang biksu dan umatnya dilarang beribadah di Desa Babat, Kecamatan Legok, Tangerang, viral di media sosial. Dimana menurut pihak kepolisian  perkara tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan.

Menanggapi hal tersebut Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam mengomentari adanya video biksu Mulyanto Nurhalim yang dilarang beribadah di Desa Babat, Kecamatan Legok, Tangerang. Dia meminta kepada setiap umat beragama untuk menjaga kerukunan dan sikap harmonis.

Saat dijumpai awak media terkait maslah tersebut Asrorun menyebutkan bahwa umat beragama perlu menjaga harmoni dalam kehidupan beragama dan bertetangga yang diikat dengan satu komitmen kebangsaan.

Dimana menurut Asrorun diperlukan toleransi  dan menjaga aturan hukum dalam pelaksanaan ajaran agama. Dan diharaqpkan agar dilakukan penyelesaian secara damai apabila terdapat satu masalah antar umat beragama.

Sementara itu, saat ada konflik kita tidak boleh memperkeruh suasana. Kita harus mencari jalan keluar terbaik untuk masalah tersebut.
Asrorun juga mengapresiasi kinerja polisi yang mampu menjadi penengah dan menyelesaikan permasalahan tersebut.
Permaslahan tersebut bermuala saat itu, di kediaman Biksu Mulyanto Nurhalim Kampung Cakung, Desa Babat akan diadakan bakti sosial dari umat Budha. Diduga setiap hari Minggu sering di adakan kegiatan agama Budha. Kegiatan tersebut mendapatkan penolakan dari warga sekitar.

Mereka mencurigai bahwa Biksu Mulyanto mengajak orang untuk masuk ke agama Budha. Penolakan atas rencana kegiatan kebaktian umat Budha dengan melakukan tebar ikan di lokasi danau bekas galian pasir di Kampung Kebon Baru, Desa Babat

“Di kediaman Biksu Mulyanto Nurhalim sering dikunjungi umat Budha dari luar kecamatan Legok terutama pada hari Sabtu dan Minggu untuk memberikan makan kepada Biksu dan minta didoakan, bukan melaksanakan kegiatan ibadah. Hal ini dapat dimaklumi karena Biksu tidak boleh pegang uang dan beli makanan sendiri,” ucap Kapolres Tangerang Selatan AKBP Fadli Widiyanto.

Akhirnya setelah melakukan rapat dengan memangumpulkan pihak-pihak terkait, disepakati beberapa hal. Rumah biksu Mulyanto pun telah dipastikan bukan merupakan tempat ibadah.

“Ornamen yang menyerupai kegiatan ibadah umat Budha agar tidak mencolok yang dapat menjadi bahan kecurigaan warga disingkirkan ke dalam rumah agar tidak terlihat seperti patung dan lain-lain,” ucap Fadli.

Dipastikan noleh Fadli bahwa persoalan tersebut telah selesai dimana warga pun meminta maaf atas kesalah pahaman terhadap Mulyanto.

Be the first to comment

Komentar Anda