Militer Zimbabwe Bantah Gulingkan Pemerintahan Setelah Kuasai Stasiun Televisi Nasional

Militer Zimbabwe membacakan pernyataan yang menyebutkan bahwa mereka melakukan aksi yang bertujuan untuk menargetkan  pelaku kriminal yang menyebabkan penderitaan sosial dan ekonomi di negara, dimana penyataan tersebut disampaikan sesaat setelah pihak militer berhasil menduduki pusat stasiun televisi nasional ZBC.

Pihak Militer Zimbabwe berkeras bahwa aksi yang mereka lakukan bukan untuk melakukan kudeta terhadap pemerintah serta menyebutkan bahwa Presiden Robert Mugabe dalam keadaan aman. Namun, pihak militer tidak menyebut nama pemberi perintah.

Juga disebutkan dalam pernyataan tersebut bahwa setelah pihak militer mencapai misi mereka maka diharapkan situasi akan kembali normal.

Beberapa jam sebelumnya dikabarkan sejumlah staf ZBC dibekuk ketika para tentara mengambil alih kantor mereka di Ibu Kota Harare, sebagaimana dilaporkan beberapa sumber kepada kantor berita Reuters.

Para serdadu mengatakan semua karyawan “tidak perlu khawatir” karena tentara ada di situ untuk melindungi.

Beberapa saat kemudian, dari saksi saksi dilaporkan terjadi tiga kali ledakan di pusat kota, namun penyebab ledakan  belum dapat dipastikan.

Sampai saat ini belum ada pernyataan langsung yang diberikan oleh presiden Zimbabwe terkait peristiwa yang terjadi.

Peristiwa tersebut terjadi setelah partai berkuasa Zimbabwe , Zanu-PF menuding panglima bersenjata Jenderal Constantino Chiwenga telah melakukan makar karena Ancaman yang dilontarkan militer  Zimbabwe bahwa mereka akan “bertindak” jika Presiden Robert Mugabe terus melakukan pembersihan di Partai Zanu-PF.

“Kami harus mengingatkan mereka yang berada di balik kekonyolan berbahaya ini bahwa apabila masalahnya sudah masuk dalam melindungi revolusi kita, militer tidak akan ragu-ragu bertindak,” kata Chiwenga.

Pemecatan yang dilakukan oleh Presuiden Robert Mugabe terhadap Wakil Presiden Emmerson Mnangagwa, pekan lalu yang menyebabkan Chiwenga melontarkan ancaman tersebut.

Sebelumnya Emmerson Mnangagwa digadang gadang akan meneruskan kepemimpinan Presiden Robert Mugabe yang telah berusia 93 tahun tersebut namun seiring berjalannya waktu asumsi tersebut kemudian memudar setelah muncul rumor yang menyebutkan Ibu Negara Grace Mugabe akan menjadi presiden.

Diduga pencopotan Mnangagwa adalah untuk memuluskan langkah istri Mugabe, Grace Mugabe untuk menggantikan Mugabe yang telah berusia 93 tahun.

Mnangagwa adalah sekutu politik terdekat Mugabe yang telah mendampinginya di pemerintahan sejak kemerdekaan Zimbabwe di tahun 1980.

Ketegangan kemudian terjadi dimana Ibu kota Zimbabwe, Harare, mencekam setelah diberitakan empat tank militer sedang bergerak menuju ke kota tersebut, Selasa (14/11/2017) waktu setempat.

Berdasarkan laporan The Independent , disebutkan sejumlah saksi mata juga mengatakan bahwa jalan-jalan di Harare telah diblokir oleh kendaraan militer.

Sementara itu Duta Besar Zimbabwe untuk Afrika Selatan, Isaac Moyo, membantah telah terjadi kudeta. Dia berkeras pemerintah Zimbabwe dalam keadaan “utuh” dan narasi kudeta “hanya merupakan klaim di media sosial”.

Di pihak lain, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan “memantau dari dekat” situasi di Zimbabwe dan mendesak semua pihak menyelesaikan perseteruan dengan “damai dan tenang”.

Kedutaan Besar AS d Harare merilis cuitan bahwa gedung kedutaan ditutup pada Rabu (15/11/2017) menyusul “ketidakpastian yang sedang berlangsung”

Be the first to comment

Komentar Anda